Kamis, 22 November 2012

WAL HASIL SIA-SIA

MENGAPA BEROLEH HASIL SIA-SIA? KATA HASIL pasti terhubung langsung dengan upaya, usaha, berupa pekerjaan atau perbuatan dan tindakan. Sebagai awal pembuka dari mengulas sebagian kecilnya, disini akan dimulai dengan megangkat permasalahan "perbuatan memakmurkan Masjid",dengan meletakkan dasar rujukkan pada surat at-taubah ayat 18 sebagai berikut: 9]:18. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. Ayat tersebut kita petik dulu satu aspek dari makrifatullah bahwa Allah berkehendak agar orang mukmin beriman kepada Allah dan iman kepada akan adanya hari akhir; mereka telah menjalankan syariat islam; hendaklah mereka itu melakukan perbuatan dan tindakan dengan tanpa ada rasa takut kepada siapapun kecuali hanya takut kepada Allah, yang dia empunya pahala dan Dia pula memberikan siksa; yang Dia bisa memberikan manfaat juga madorot kepada siapapun dari hambaNya. Sesungguhnya manusia yang takut kepada allah adalah mereka yang memiliki ketakwaan dalam derajat yang tinggi, dan orang-orang yang demikian itu tentu selalu mengedepankan petunjuk dari Allah dan bukan mengikuti kehendak nafsu mereka yang terkadang justru bertentangan dengan petunjuk; tentulah mereka itu banyak bersilaturahmi dengan alam disekelilingnya dengan baik dan berbuah menebar banyak kebajikan juga. Tidak semua manusia oleh Allah diijinkan melakukan perbuatan dan tindakan dalam berbagai bentuknya dengan tujuan memakmurkan masjid. Ada segolongan manusia yang benar-benar dilarang Allah ikut serta melakukan kegiatan hidupnya bersentuh dan bersambung dengan ruang lingkup memakmurkan masjid. Golongan tersebut ialah sebagaimana dijelaskan pada ayat bertikut ini: 9]:17. Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Orang musyrik dan orang kafir tertolak amalan mereka meski amalan tersebut terkait dengan pekerjaan berupa perbuatan dan tindakan dalam ruang linkup memakmurkan masjid. Amat mudah difahami mengapa mereka tertolak amalannya. Orang musyrik adalah orang yang cacad ketauhidan mereka. sedangkan orang kafir terlebih pada tingkat kekafiran yang amat mendasar yakni tidak mengimani kepada Allah dan juga adanya hari akhir. Bila orang kafir diberi label najis maka oleh sebab tak ada iman dalam hati mereka bahkan hati mereka terisi dengan najisnya kekufuran. Amalan yang dilakukan oleh orang yang disebut dalan surat dibawah ini -dipetik sebagai contoh -memberikan kejelasan sebagian dari kelompok-kelompok orang yang yang tertolak dan seluruh amalan mereka masuk kategori sia-sia. 2]:217 ___. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Orang yang murtad yakni keluar dari memeluk agama Islam, pada kenyataannya mereka melakukan pekerjaan yang secara kasad mata termasuk pekerjaan yang baik. Namun didalam kemurtadan itu tak ada iman didalam hatinya itulah yang menjadi sebab semua hasil pekerjang nampak baik itu tak mempunyai nilai di sisi Allah terhitung sejak mereka dalam keadaan murtad. Jadi orang yang murtad amalan mereka sia-sia. Amalan sia-sia yaitu amalah yang tertolak oleh Allah. Amalan adalah pekerjaan. dan pekerjaan itu bisa dipilah meski tak secara tegas antara perbuatan dan tindakan, karena keduanya ini merupakan jalinan hingga pekerjaan itu terlaksanakan. KATA SIA-SIA boleh diidentikkan dengan tak memperoleh nilai dari Allah. Amalan yang berkiblat pada kemakrufan atau juga yang menuju kepada kemungkaran sesungguhnya berupa pekerjaan yang dilakukan oleh perbuatan hati, mulut, juga tindakan pisik jasmani. Ketiganya bagaikan rangkaian yang tak ada putusnya. Untuk maksud bisa menjelaskan sisi-sisi amalan yang merupakan gabungan dari ketiga bagiannya seperti tertera itu maka akan dipetik padanan seperti dibawah ini sebagai penuntun kronologisnya. Amalam ibadah shalat misalnya; yang jelas amalan seperti ini berkiblat kepada hal yang makruf: didalamnya meliputi ada perbuatan hati dalam menyatakan wujud niat shalat; ada perbuatan mulut mengucapkan takbirotul ihram, dilanjutkan dengan tindakan gerak anggota badan berupa tangan diangkat keduanya disejajarkan dengan kepala dengan telapak tangan dihadapkan kearah Baitullah. Ketiga aktifitas itu hampir simultan walau jelas kronologisnya. Contoh ini sebagai alur pikir sekedar untuk memberikan pembenaran bahwa amalan atau perbuatan itu terdiri dari perbuatan dan tindakan yang melibatkan hati dan pikiran, mulut dan ucacapan serta gerak tindakan angota badan jasmani. PERBUATAN HATI dan PIKIRAN Berikut ini kutipan dari ayat-ayat yang lebih menitik beratkan pada perbuatan hati dan pikiran: 18]:103. Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Demi mendengar dan mengerti makna maka hati dan pikiran bereaksi membangun pola.terbentuklah honsep-konsep dalam hati dan pikiran, yang sangat mungkin sedera tertuang dalam ucapan lisan ataupun gerak anggota badan untuk melakukan sebuah tindakkan. 18]:104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. pernyataan dan isi ayat itu akan membuat gerakan hayi dan pikiran menyusun analisa untuk menjabarkan bentuk sebab-akibat yang bernada kontradiktif. Yang semestinya perbuatan baik dalam kemakrufan membuahkan hal atau sesuatu yang bermanfaat sebagai hasilnya. Dua ayat diatas itu; memberi isyaroh bahwa hati dan angan ternyata tak ada persesuaian dalam menentukan hasil dari telah diselesaikan suatu amalan pekerjaan ibadah. Angan dan anggapan memperkirakan membuahkan hasil makruf, tapi dalam kenyataannya adalah sia-sia alias tak membuahkan apa-apa bagi mereka alias hasil yang diharapkan dari usaha makuf tersebut hanya berbuah kosong. Itu artinya ada kerugian dari usaha mereka karena walau telah berusaha dan telah dengan perhitungan masuk kategori perbuatan mulia atau baik, dan tentu akan berbuah baik, ternyata kosong tanpa hasil. Kegiatan itu adalah menjadi pekerjaan yang tak berguna. Meleset, hasil akhir tak sesuai harapan. Dari perbuatan hati yang berupa: Mengkufuri ayat-ayat Allah; kemudian berlanjut dengan hati mereka tidak menyakini akan adanya Pertemuan dengan Allah kelak di hari akhir;menjadi pangkal tolak dari kekosongan hasil dari semua amalan mereka, meski kiblatnya telah mengarah kepada makruf. Berhubung kosong alias tak ada apa-apanya maka lalu tak ada yang dinilai untuk dipertimbangkan mencapai derajat pada tingkat yang seberapapun bila diperbandingkan dengan semua kealpaan mereka. Mereka akhirnya hanya memiliki kealpaan yang banyak dengan tanpa meiliki sekecil apapun derajat kemuliaan karena semua amalan mereka berbuah kosong. Kekosongan akan hasil tersebut karena yang semestinya ada menjadi terhapus. Dua kutipan ayat dibawah ini menunjukkan bahwa kufur ayat, kufur perjumpaan dengan Allah, sama halnya dengan pengertian mendustakan ayat-ayat dan mendustakan pertemuan di akhirat. Dua event perbuatan hati ini;baik mengkufuri maupun mendustakan kepada perkara fondametal yang menunjuk kepada ayat Allah dan pertemuan dengan Allah; menjadi terpenuhinya syarat untuk terhapusnya nilai-nilai kemuliaan yang semestinya bisa diperoleh mereka. 18]:105. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. 7]:147. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan. Begitu menjadi amat jelas duduk perkaranya mengapa seseorang tak jadi memiliki nilai karena terhapus. andai misal yang terhapus itu seumpama Kupon Konsumsi, maka mendjadi batal tidak menerima ransum. Kini kita perlu tahu mengapa dua event tragis itu mesti bisa terdapat pada hati mereka. Ayat dibawah ini memberikan jawab keterangannya: 18]:106. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok . Menjadi tidak ada iman dalam hati kiranya dimulai dari perbuatan hati menolak hadirnya sumber yang dapat mendatangkan dan mempertebal iman, kemudian bersambung dengan tindakan yang dilakukan mulut melakukan pengolok-olokan baik terhadap ayat-ayat Allah maupun terhadap pribadi rasul itu sendiri.Tindakan mulut itu tentu kian memuncak hingga merencanakan tipu daya (perbuatan hati) untuk mencelakai memberi madorot terhadap rasul/nabi. Tindakan-tindakan pengusiran dan juga penyiksaan terhadap jasad para rasul/nabi, bahkan pembunuhan terhadap para nabi pada sebelum rasululullah (ini merupakan tindakan pisik) pernah dilakukan oleh masyarakat jahiliyah tempo dulu. Keterangan-keterangan tersebut hanya untuk merangkai penjelasan pengertian perbuatan dan tindakan yang membalut tiap pekerjaan amalam setiap sosok manusia. Kemudian berikut ini akan diambung dengan pekerjaan berupa tindakan baik mulut maupun tindakan jasmani, sebagai pelengkapnya. PERBUATAN MULUT. Sebagai tindakan lisan. Agar mudah mensarikan dari perbuatan mulut sebagai tindakan lisan maka akan dimbail dan ditunjukkan sebagai contoh saja bahwa tindakan lisan itu menjadikan berbuah sia-sia. yang pertama berhubungan denganketepatan masalah. Menggunakan mulut untuk membatah hal yang benar-benar haq, tentu tak dapat merubah yang haq itu menjadi batil sebagai contohnya bila orang membantah kebenaran Agama Allah; pekerjaan ini bertolak dari kemungkaran; seperti kutipan ayat dibawah ini. 42]:16. Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras. Kenyataan bukan sia-sia untuk makruf. tetapi sesungguhnya mereka itu berhasil menambah buah kemungkarannya yakni kian menjadi bertambah keras uapah azab yang bakal mereka terima. Kemudian ditambahkan; orang menggunakan mulutnya dalam tindakan lisan seumpama saja dalam berdoa. Doa itu tentu dimaksudkan berkiblat pada makruf. Berdoapun hasilnya hanya sia-sia manakala: alamat doanya salah; atau juga bertepatan dengan kondisi waktu yang tak sesuai lagi. Untuk contoh yang pertama dan kedua berturut-turut dikutipkan dua ayat seperti dibawah ini. 13]:14. Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka. Berdoa ataupun beribadah dengan alamat kepada berhala, hasilnya tentu salah yakni hanya sia-sia saja. 40]:50. Penjaga Jahannam berkata: "Dan apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?" Mereka menjawab: "Benar, sudah datang". Penjaga-penjaga Jahannam berkata: "Berdoalah kamu". Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. Orang alim menyebut kondisi saat itu adalah pada keadaan pintu tobat telah ditutup. Mereka tidak lagi berada pada kondisi waktu untuk menjalankan syariat beribadah di dunia. Mereka telah berada di alam baqa. Doa mereka takkan menghasilkan apa-apa alias percuma dan ssia-sia. PERBUATAN PISIK. sebagai tindakan badaniyah. 40:25. Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: "Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka". Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Perbuatan pisik sebagai tindakan jasmaniah ini seperti yang pernah dilakukan firaun dengan bala tentaranya di negri Mesir tempo dulu. Jelas berangkat dari kemungkaran. Dengan tujuan memutus generasi pendukung Musa. Mereka melakukan pembunuhan orang-oaarng pngikut agama Musa dan anak-anak yang berjenis kelamin laki-laki. bila kemungkarang yang telah terencana dan telah diumumkan kemudian gerakan tindakan berhasil dengan lancar tentu tak ada lagi di bumi mesir lelaki pendukung Musa. Jelasnya; semua upaya firaun adalah untuk menolak agama Musa. Disebut sebagai tipu daya karena pekerjaan firaus berangkat dari kemungkaran. Tentu tidak berhasil alias gagal. Kegagalan ini dilihat dari kepentingan firaun maka mereka mendapatkan hasil yang sia-sia. Sedang jika dilihat dari kepentingan Musa dan berkat pertolongan Allah dia berhasil menyelamatkan diri sekaligus menyelamatkan agama Allah. 105]:2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? Senada dengan kemungkaran raja Abraha pemimpin pasukan gajah yang berbuat akan menghancurkan ka'bah. Usaha tesebut tak membuahkan hasil, karena kakbah dilindungi allah dengan menggunakan pasukan bala tentara berupa burung ababil yang bersenjatakan batu-batu tanah yang membara penghancur pasukan gajah. Jadi uapaya raja abraha berakhir dengan sia sia aliah tidah berhasil melancarkan tipudaya mereka. Purna dulu sampai disini. silakan ambil kesimpulan sendiri. Trimakasih atas kesempatan pembaca turut menelusuri artikel ini semga anda menemukan sesuatu yang bermafaat. smoga.

2 komentar:

  1. Sebuah amalan yang didasari dengan amar makruf nahi mungkar, bila berhasil maka akan meberikan buah yang tiddk sia-sia atau banyak menebar manfaat. Itu perbuatan bajik namanya? Gimana Bung!!

    BalasHapus
  2. Sedangkan berbagai upaya tindak kemungkaran bila berhasil tentu kian tambah meluasnya kerusakan dimuka bumi. Sedang bila tergagalkan itu memang sudah seharusnya. Setuju anda dengan pernyataab ini??

    BalasHapus