Selasa, 13 November 2012
Mendirikan dan menegakkan Shalat
PENTING MENDENGAR NASEHAT. Kali ini tentang bagaimana agar saat mendirikan shalat bertambah khusyuk; berlanjut dengan tetap tegaknya shalat dalan hati; hingga ketemu waktu shalat berikutnya. Mari kita coba bersama menyiimak.
Dimulai dengan mengangkat ayat 238 surat al Baqoroh
2:238. Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.
Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan shalat wusthaa ialah shalat Ashar. Menurut kebanyakan ahli hadits, ayat ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
Penulis ingin juga menambahkan pendapatnya ssendiri; bahwa istilah shalat wusthaa terkandung isyaroh terdapat didalamnya perihal adanya kesulitan mengambil atau menyisihkan waktu untuk mengerjakan jenis shalat itu, karena kondisi yang seakan terjepit dalam kesempitan peluang. Disana dicontohkan dengan waktu untuk mengerjakan shalat Ashar. Kemudahan yang diberikan untuk tetap khusyuk dalam mendirikannya maka kadang boleh dikerjakan dengan cara dijamak bahkan dengan di kosor lagi. Artinya jenis shalat tersebut tetap ditunaikan walau berada diluar ketentuan waktu yang semestinya bagi jenis shalat tertentu tersebut. Begitu barangkali. Pengertian ini didasarkan atas perintah memelihara shalat dengan tidak ada sebagiannya yang boleh tertinggalkan terkait dengan situasi dan kondisi yang bagaimanapun yang meliputi diri seorang hamba dalam mengelola waktunya untuk berbagai kegiatan dihari-hari menjalani kehidupan mereka.
Ayat tersebut berisi perintah tetap dan selalu tanpa ada libur dalam beribadah shalat maka untuk tetap dan selalu dikerjakan tepat waktu perlu diberikan keringanan-kelonggaran agar gampang mendapatkan kemudahan. Begitu orientasi ini demi menjawab perintah untuk tetap memelihara shalat. Lalu kita wajib memperhatikan tiga ayat terkutip dari surat no 107, surat al Maun sbb:
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. orang-orang yang berbuat riya
Riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
Bagi orang yang telah mendirikan shalat namun tidak lagi mampu memelihara agar tetap tegaknya sholat dalam setiap aspek muamalat mereka, ternyata ada tegoran tersimpan pada tiga ayat terkutip diatas. Dengan tegas menunjukkan bahwa para pendiri shalatpun masih juga menjumpai kecelakaannya. Terlebih shalatnya lalai dari ketepatan waktu shalat karena shalat itu telah tertentu waktunya. Juga lalai dari kekhusyukannya sehingga tak lagi tahu apa yang diucapkan dari bacaan shalatnya; juga tak tergetar dalam hatinya. Kelalaian yang fatal adalah bukan lagi syiar yang didapat dari mendirikan shalat berjamaah melainkan shalatnya justru dipakai untuk me-riya-kan diri dan berbangga-banggaan di mata manusia diluar dirinya. Urusan niat memang hanya diketahui oleh diri sendiri dan juga Allah tentu.
Mari kita sambung-lanjutkan dengan peringatan yang terkandung dalam tiga ayat di awal surat al mukminun surat no 23:
1.Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2.(yaitu) orang-orang yang khusyu ' dalam sembahyangnya,
3.dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
Saat pelanggaran telah terjadi seperti yang diamanatkan pada ayat ke 3; langsung saja dengan contoh nyata misalnya: mulut telah digunakan untuk mencaci dan mengumpat dalam bermuamalat; meski wudlunya tidak jatuh batal misalnya; tapi sesungguhnya telah robohlah tegaknya shalat dalam hati mereka. Padahal bermuamalah harus dengan ketegakkan shalat dalam hati mereka.
Kekhusyukan dalam shalat yang diamanatkan pada ayat 2 dan bahkan benar-benar telah dilandasi dengan keimanan yang teguh sesuai yang diamanatkan pada ayat 1; menjadi pudar kesemuanya saat shalat usai dikerjakan; seakan tak membekas. Tak terjadi ada bekas sujud didahi wajah mereka meski pada kenyataanya si jidat itu terdapat “kapal” menebal pada kulit dahi; bahkan perubahan warnapun kian menggelap di dahi sang ahli shalat ini. Mengapa demikian karena shalat telah segera roboh dalam muamalat sesaat usai sembahyang itu didirikan
Ada tip agar saat mendirikan shalat memperoleh kekhusyukan dan berlanjut dengan tetap tegaknya shalat di dalam hati selama bermuamalah. Hal tersebut dapat dipertahankan untuk tidak dan jamgan segera roboh hingga mencapai waktu sahlat berikutnya dan mendirikan shalatnya, Begitu terus menerus bersambung berkelanjutan. Siklus mendirikan dan menegakkan tak boleh terputus oleh semua perkara yang dapat merobohkan tegaknya shalat dalam hati. . Bila hal tersebut dapat dijalankan dan dipertahankan maka meski jidat tak ada tumbuh kapal bekas benturan dengan sajadah; tentu para malaikat tetap dapat menatap untuk membedakan mana dahi yang tampaknya sama-sama halus mulus itu ada terdapat perbedaan mana yang ada bekas sujud diantara kedua penampilan wajah tersebut. Yakinlah hal-hal demikian itu benar adanya. InsyaAllah.
Tip-tip yang ditawarkan hanyalah berkisar pada lingkungan pendukung saja. Kesucian dan kebersihan badan, pakaian beserta perlengkapannya,dari khadas dan najis dan juga tentang tempat serta lingkungannya, aman dan nyaman Dan juga syarat rukun syah yang diarahkan kepada diterima tidaknya ibadah itu menurut anggapan manusia. Hal yang lebih sentral seperti bekerjanya hati serta ucapan-ucapan yang dilafadzkan dalam shalat termasuk harapan dan sikap yang benar sopan juga santun dalam menghadap sesuatu yang tak tampak mata dihadapannya yakni Allah. Dan Allah disaat apa dan kapanpun bisa berbuat terhadap apa saja yang menjadi kehendaknya. Wajib ditakuti juga akan pemberian setiap putusan terhadap setiap sisi perbuatan hambanya.
Tip yang paling sesuai adalah mengupayakan pesan yang terkandung pada ayat 45 dari surat al ankabut sebagai berikut:
29:45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Perbuatan keji dan mungkar hanya bisa dilakukan diluar shalat. Artinya pada sebelum atau pada sesudah mendirikan shalat. Maka tidak disebut sebagai mendirikan shalat manakala perbuatan yang mirip gerakan orang mengerjakan shalat itu justru sedang melakukan tindak keji dan mungkar.
Bila demikian yang menjadi dampak dari setiap hamba Allah yang telah mendirikan shalat, dalam mencegah keji dan mungkar, pastilah hanya pada mereka yang tetap memelihara tegaknya shalat dalam hati di semua perilakunya. Tentu mereka menjadi mampu dengan kontrol berupa tetap tegaknya shalat dalam hati disepanjang melakukan semua aktifitas hidupnya. Baik dalam aspek ibadah selain shalat maupun bermuamalah. Semoga postingan ini mampu menebar manfaat bagi para pendiri shalat!!
Kemudian sebagai penutup postingan ini: mari kita baca ayat surat jumuah surat no.62, yang dengan mengamalkannya selalu maka akan menjadikan diri kita tetap menegakkan shalat dalam hati sepanjang masa.
62:10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Kunci agar tetap shalat itu tetap tegak didalam hati dimanapun kita berada dimuka bumi ini, maka dzikir dengan mengingat Allah banyak-banyak. Yang demikian itu membuat kita selalu beroleh keuntungan banyak. Diantaranya selain shalat kita tidak segera roboh selama bermuamalat, juga bagi diri kita masing-masing akan terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar.
Begitu???!! Amiin!!!.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
benarkah orang melafadzkan bacaan dalam mendirikan shalat yang tak dimengerti dan tak ada dalam hatinya terkategorikan sebagai orang mabuk?rasanya begitukan?? gimana?
BalasHapusorang yang selalu ingat Allah dengan berdzikir pada seusai mendirikan shalat hingga bersambung sampai mencapai waktu shalat berikutnya termasuk golongan orang yang menjaga dan memelihara shalatnya tetap tegak didalam hatinya dan tergolongkan kepada terbebas dari pebuatan keji dan mungkar?? bila begitu mereka itu termasuk orang beruntung!. Setuju?
BalasHapus