Minggu, 11 November 2012

ISTANA dan SINGGASANA

Antara ISTANA dan SINGGASANA. Demi ketauhidan yang mapan dan kokoh dalam hati tiap muslim. Jangan mudah men generalisasi peruntukan penggunaan beberapa kata menjadi bermakna sama, sebobot dan setara. Ingat di dalam bahasa Indonesia ada kaidah DIKSI yang mengarahkan kepada pemakaian pilih kata sesuai terapan dalam kalimat dengan lebih tepat Kenalkah anda terhadap makhluk yang disebut Jin?; sesungguhnya Iblis juga berasal dari jenis Jin. Lalu karena dari semua ulah mereka maka makhluk ini menjadi dilaknat Allah.. Ada hal-hal yang tak patut diambil juga diiberikan untuk mereka, mari kita lihat nash-nash ini: 1 18:50. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang lalim. Dari surat al-Kahfi ayat 50 diatas, amat jelas hal-hal yang tak boleh diambil dari mereka lebih-lebih dijadikan sebagai premimpin bahkan pengganti Allah. 2 Musnad Ahmad 14027: Telah bercerita kepada kami Abu Ahmad telah bercerita kepada kami Sufyan dari Abu Az Zubair dari Jabir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Singgasana Iblis adalah di tengah laut, disanalah ia mengirimkan para tentaranya. Yang paling tinggi kedudukannya adalah yang paling besar kejahatannya “. 3 Shahih Muslim 5031: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim, berkata Ishaq: Telah mengkhabarkan kepada kami, sedangkan Utsman berkata: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir berkata: Aku mendengar nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: Sesungguhnya singgasana Iblis berada di atas laut, ia mengirim bala tentaranya kemudian mereka menggoda manusia. Yang paling agung bagi iblis adalah (setan) yang paling besar godaannya.” Dari musnad Ahmad dan Shahih Muslim terkutib diatas; ada persesuaian yang dilakukan oleh penterjemahnya pada lafadz yang kemudian di translate kedalam bahasa Indonesia menjadi: “Singgasana”. Ungkapkan untuk menunjukkan kehebatan dalam keburukan terkait dengan tempat pusat kediaman mereka para jin dan iblis, dengan sebutan seperti itu adalah ada ketidak patutan terkandung didalamnya. Yang pantas bagi jin dan iblis cukup dengan menyebut untuk mereka dengan nama:” istana” saja karena dengan begitu bisa dibedakan antara makna yang terkandung pada kata SINGGANA dengan kata ISTANA dalam bahasa Indonesia. Singgasana hanya diperuntukan bagi pengganti sebutan ARASY milik Allah saja. Translate yang penulis setuju dan cocok adalah seperti dibawah ini: 4 Musnad Ahmad 13858: Telah bercerita kepada kami Abu Mu’awiyah telah bercerita kepada kami Al ‘A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iblis meletakkan istananya di atas air kemudian mengutus pasukannya. Singgasana paling rendah di air dihuni oleh yang paling besar kejahatannya, Iblis mendatangi satu persatu anggotanya, ada yang menjawab ‘Saya telah melakukan ini dan itu’, maka (Iblis) berkata; ‘Kamu belum berbuat apa-apa”. (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Kemudian ia mendatangi yang lain dan berkata; ‘Saya tidak meninggalkan dia, sampai saya bisa memisahkan dia dengan isterinya’”. (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Maka ia (iblis) tersebut menjadikan anggotanya yang telah berhasil memisahkan suami-isteri itu dekat dengannya”, atau beliau bersabda: “Maka ia selalui menyertainya, hingga raja iblis itu berkata; ‘Anak buah terbaik adalah kamu”. Abu Mu’awiyah pernah berkata; “Maka Iblis menjadikan anggotanya itu sangat dekat” dengannya. Tegasnya: Singgasana sebaiknya hanya untuk Allah dan istana boleh diperuntukkan bagi selain NYA. Pemakaian kata ataupun istilah yang rancu tak akan dapat membuat perbedaan derajat mana yang lpaling tinggi kemualiaannya dan mana yang sebenaarnya amat rendah kehinaannya. Membiasakan hal tersebut dalam keseharian tentu terkait dengan kokonya ketauhidan dan bermuara kepada tetap tegaknya syariat pada diri seseorang muslim.Smoga! Begitu pula Antara posisi dan kedudukan terkait LETAK suatu bangunan Masih dengan dalih: “demi keteguhan ketauhidan di hati muslim”. Jangan mudah memberi makna sama bagi sesuatu yang kebetulan masing-masing diberi keterangan letak dengan kata yang persis sama pada Posisi dan kedudukan yang berbeda. Apa itu ? “TERHADAP AIR.!!”.Menyebut nama bangunan tak boleh rancu antara istana dan singgasana sebagaimana telah dibahas pada sebelum ini;dan kerancuan kian membutakan faham dan pengertian tatkala ditambah dengan menyebut identitas keterangannya yang dianggap sama namun berbeda dari baik POSISI maupun KEDUDUKAN dari identitas penjelas yang justru membuahkan kerancuan bagi pemahaman antar keduanya. Terhadap Air untuk dikaitkan dengan posisi suatu bangunan; berbeda dengan pengertian terhadap air untuk dikaitkan dengan kedudukan suatu bangunan tertentu.Mari kita lihat dan perhatikan keterangan penjelasnya sebagai berikut. Kata posisi sebenarnya juga mengandung pengertian letak yang menjukkan koordinat diantara benda-benda lain disekelilingnya. Sedang kedudukan juga mengandung pengertian letak yang menunjukkan hubungan suatu benda terhadap benda lain disekelilingnya. 1. Untuk posisi suatu bangunan dengan keterangan “diatas air”. 2. Untuk kedudukan suatu bangunan dengan keterangan “diatas air”. Untuk yang pertama: Bangunan tersebut adalah SINGGASANA milik Allah dalam bahasa al quran disebut ARASY dengan ciri khas bangunan tersebut hasil ciptaan Allah sendiri. Letaknya diatas air. Diatas air adalah posisi yang koordinatnya berada diatas segala dan semua ciptaannya, termasuk air yang diletakkannya dibawah arasy. Air ini adalah air kehidupan diperuntukkan bagi makhluknya. Makhluk yang diberi kehidupan harus memposisikan dri mereka sebagai makhluk dan juga hamba Allah. Arasy tempat dan pusat mnegendalikan semua urusan bagi Allah. Arasy itu tidak bertumpu pada air yang berada di bawahnya. Begitu pula air yang berada di bawahnya yang tak terukur besar jumlahnya dan tak diberikan tahu apa pula wadah air ini. Air ini tidak menggantung dengan berbagai tali pengikatnya dibawah arasy melainkan terkendali dari arasy. Tidak liar karena diatur Allah dalam berbagai ketentuan yang mesti ditaati si AIR ini. Itu adalah air sebagai awal-mula dari semua air yang berada di seluruh alam semesta.Begitulah posisi antara Singgasana Allah dan air kehidupan dibawahnya. Untuk yang kedua; bangunan ini yang pada beberapa ayat disebut dengan arasy juga adalah milik makhluk hendaklah diterjemah sebagai Istana. Merupakan bangunan buatan makhluk. Dari memberi sebutan yang berbeda akan memberi banyak menumbuhkan sisi kelengkapan pemahamannya hingga menjadi terang dan jelas.Dengan begitu tak akan terjadi seakan menyetarakan menyamakan dalam derajat kemuliaan. Disitu menjadi tegas perbedaan dalam perbandingan kesuciannya. Istana Jin juga diletakkan diatas air. Kini mari kita bahas materi air itu disini. Air dibawah Arasy Allah tidak sama dengan air dimana istana Iblis diletakkan, meski sebutan sama namun letak berbeda. Menunjukkan airnyapun tentu berbeda pula. Air tersebut berupa lautan ataupun samudra yang letaknya benar-benar mengambil sebagian permukaan bumi dijadikan sebagai wadahnya. Air danau air lautan maupun samodera asalnya adalah air yang diturunkan Allah ke bumi yang kemudian tinggal di bumi ataupun dipermukaan bumi. Karena air ini meski asalnya dari air dibawah arasy Allah, maka segala kondisinya tak akan menjadi sebanding lagi dengan yang masih tetap berada di bawah arasy Allah dan belum atau memang tidak untuk diturunkan ke bumi. Air yang telah tinggal di bumi yang berupa lautan ataupun samudera pada bagian atasnya akan terbuka luas. Pada bagian terbuka luas inilah iblis meletakkan istananya. Alam jin atau iblis itu berhimpit tanpa bersinggung dengan alam manusia. Melalui bagian yang berhimpit ini memberi celah untuk berkomunikasi dan berinteraksi antara alam manusia dan alam jin. Contoh untuk itu adalah Nabi Solaiman dengan ratu bilqis. Kembali kepada membahas masalah air yang telah jelas perbedaan antar keduanya. Kini tentang KEDUDUKAN istana iblis yang terbaca diatas air lautan, maka air tersebut berada di alam manusia sedang istana iblis berada di alam Jin. Hubungan antara air dan istana iblis berhimpit tanpa bersinggungan karena masing-masing berada pada letak alam yang brbeda. Membahas pengertian dua alam yang berhimpit tanpa bersinggungan ada ilmunya tersendiri untuk lebih mendalami pemahamannya. Sampai disini hanya dimaksudkan untuk menjelaskan pemahaman perbedaan air lautan dengan air dibawaArasy Allah; juga untuk menunjukkan pengertian posisi terkait tata letak beberapa benda didalam satu alam, sedang kedudukan dimaksudkan untuk menjelaskan tata letak antar makhluk ciptaan Allah yang berada pada alamnya masing-masing dan hubungan interaksinya. Sebelum postingan diakhiri, kiranya perlu ditambahkan hal yang menginginkan kemegahan bagi suatu banguan yang dianggap berada diatas air. Tersebutlah kisah Penguasa Maroko Raja Hasan III membuat bangunan mesjid diatas permukaan air lautan pasifik. Masjid yang amat tersohor kemegahannya. Tetapi bila kita sorot dengan pengertian Posisi dan Kedudukan maka bukanlah menjadi benar-benar diatas air meski kenyataan pandangan mata bagi siapapun yang melihat akan mengatakan demikian. Masjid ini ditumpu dengan tiang-tiang peyangga yang mencuat dari dasar laut menembus lapisan air diatasnya kemudian mencuat keatas permukaan air samodra pasifik .Pada ujung-ujung dari semua tiang penyangga ini digunakan untuk menopang pondasi masjid yang kemudian didirikan bangunan masjid seutuhnya berada diatas pondasi ini. Seandainya air laut mau surut serenrendah panjangnya ting pancang untuk mesjid ini maka aakan menjadi nyata bahwa posisi mesjid tak lagi berada diatas air, dalam kondisi mesjid tak bergerak pergi meninggalkan tempatnya semula. Mesjid ini akan menunjukkan posisi aslinya yakni tanah didasar laut kala saat laut mengering. Hal semacam ini bisa saja terjadi karena air laut pasifik dibawah masjid ini tak punya sifat kekal. Bila kemungkinan seperti tersebut menjadi kenyataan maka kedudukan masjid sebagai bangunan diatas air menjadi batal atau gugur. Dengan kata lain menjadi tak terbukti diatas air lagi. Mengapa begitu? Air yang tinggal di bumi konsentrasinya amat labil. Ingat peristiwa yang dialami oleh masyarakatnya nabi Nuh. Air yang keberadaannya amat temporer itu telah mengubah daratan menjadi tertutup air dengan kedalamannya serta lama waktu yang cukup untuk membinasakan umat yang sebelumnya telah menghuni dan tinggal di permukaan daratan ini. Harapan dari pemosting artikel ini agar pembacanya menjadi lebih bingung kemudian mau mencari tahu pengertian antara posisi dn kedudukan dengan semakin penasaran kemudian memperoleh pemahaman dari yang digali itu dengan lebih mendalam. Klu kunci cari makrifatullah, yang sebagiannya insyaAllah sedikit akan pemosting terbitkan artikel demi artikel bagiannya mengarah kepada makrifatullah. Sebagai percobaannya; mulailah menkaji ayat22 dari surat Qof surat no 50.perhatikan apa makna yang terkandung pada penjelasan: bahwa pada hari itu penglihatanmu menjadi TAJAM setelah tutup mata dibuka untuk melihat keadaan alam lain disekitar kita manusia yang saat itu sedang mengalami sakaratul maut. Silahkan ihwanku!!.Perkuat ketauhidan serta aqidahmu agar kian meningkat kualitas penghambaan kepada Allah. Wasalam.

1 komentar:

  1. Belumkah anda mulai sadar bahwa pada postingan itu akan dikenalkan kepada Allah dengan lebih dekat kepada sifatNya yang Dia pada kenyataannya adalah wujud dhohir dan juga wujud batin yang tak dapat dilihat dengan matadunia manusia? lihat ayat 3 dari surat al hadis surat no 57 dalam alquran? ayo cermati!!konfirmasi bila perlu.

    BalasHapus