Kamis, 22 November 2012
WAL HASIL SIA-SIA
MENGAPA BEROLEH HASIL SIA-SIA?
KATA HASIL pasti terhubung langsung dengan upaya, usaha, berupa pekerjaan atau perbuatan dan tindakan.
Sebagai awal pembuka dari mengulas sebagian kecilnya, disini akan dimulai dengan megangkat permasalahan "perbuatan memakmurkan Masjid",dengan meletakkan dasar rujukkan pada surat at-taubah ayat 18 sebagai berikut:
9]:18. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
Ayat tersebut kita petik dulu satu aspek dari makrifatullah bahwa Allah berkehendak agar orang mukmin beriman kepada Allah dan iman kepada akan adanya hari akhir; mereka telah menjalankan syariat islam; hendaklah mereka itu melakukan perbuatan dan tindakan dengan tanpa ada rasa takut kepada siapapun kecuali hanya takut kepada
Allah, yang dia empunya pahala dan Dia pula memberikan siksa; yang Dia bisa memberikan manfaat juga madorot kepada siapapun dari hambaNya. Sesungguhnya manusia yang takut kepada allah adalah mereka yang memiliki ketakwaan dalam derajat yang tinggi, dan orang-orang yang demikian itu tentu selalu mengedepankan petunjuk dari Allah dan bukan mengikuti kehendak nafsu mereka yang terkadang justru bertentangan dengan petunjuk; tentulah mereka itu banyak bersilaturahmi dengan alam disekelilingnya dengan baik dan berbuah menebar banyak kebajikan juga.
Tidak semua manusia oleh Allah diijinkan melakukan perbuatan dan tindakan dalam berbagai bentuknya dengan tujuan memakmurkan masjid. Ada segolongan manusia yang benar-benar dilarang Allah ikut serta melakukan kegiatan hidupnya bersentuh dan bersambung dengan ruang lingkup memakmurkan masjid. Golongan tersebut ialah sebagaimana dijelaskan pada ayat bertikut ini:
9]:17. Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.
Orang musyrik dan orang kafir tertolak amalan mereka meski amalan tersebut terkait dengan pekerjaan berupa perbuatan dan tindakan dalam ruang linkup memakmurkan masjid. Amat mudah difahami mengapa mereka tertolak amalannya. Orang musyrik adalah orang yang cacad ketauhidan mereka. sedangkan orang kafir terlebih pada tingkat kekafiran yang amat mendasar yakni tidak mengimani kepada Allah dan juga adanya hari akhir. Bila orang kafir diberi label najis maka oleh sebab tak ada iman dalam hati mereka bahkan hati mereka terisi dengan najisnya kekufuran. Amalan yang dilakukan oleh orang yang disebut dalan surat dibawah ini -dipetik sebagai contoh -memberikan kejelasan sebagian dari kelompok-kelompok orang yang yang tertolak dan seluruh amalan mereka masuk kategori sia-sia.
2]:217 ___. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
Orang yang murtad yakni keluar dari memeluk agama Islam, pada kenyataannya mereka melakukan pekerjaan yang secara kasad mata termasuk pekerjaan yang baik. Namun didalam kemurtadan itu tak ada iman didalam hatinya itulah yang menjadi sebab semua hasil pekerjang nampak baik itu tak mempunyai nilai di sisi Allah terhitung sejak mereka dalam keadaan murtad. Jadi orang yang murtad amalan mereka sia-sia.
Amalan sia-sia yaitu amalah yang tertolak oleh Allah.
Amalan adalah pekerjaan. dan pekerjaan itu bisa dipilah meski tak secara tegas antara perbuatan dan tindakan, karena keduanya ini merupakan jalinan hingga pekerjaan itu terlaksanakan.
KATA SIA-SIA boleh diidentikkan dengan tak memperoleh nilai dari Allah.
Amalan yang berkiblat pada kemakrufan atau juga yang menuju kepada kemungkaran sesungguhnya berupa pekerjaan yang dilakukan oleh perbuatan hati, mulut, juga tindakan pisik jasmani. Ketiganya bagaikan rangkaian yang tak ada putusnya. Untuk maksud bisa menjelaskan sisi-sisi amalan yang merupakan gabungan dari ketiga bagiannya seperti tertera itu maka akan dipetik padanan seperti dibawah ini sebagai penuntun kronologisnya.
Amalam ibadah shalat misalnya; yang jelas amalan seperti ini berkiblat kepada hal yang makruf: didalamnya meliputi ada perbuatan hati dalam menyatakan wujud niat shalat; ada perbuatan mulut mengucapkan takbirotul ihram, dilanjutkan dengan tindakan gerak anggota badan berupa tangan diangkat keduanya disejajarkan dengan kepala dengan telapak tangan dihadapkan kearah Baitullah. Ketiga aktifitas itu hampir simultan walau jelas kronologisnya. Contoh ini sebagai alur pikir sekedar untuk memberikan pembenaran bahwa amalan atau perbuatan itu terdiri dari perbuatan dan tindakan yang melibatkan hati dan pikiran, mulut dan ucacapan serta gerak tindakan angota badan jasmani.
PERBUATAN HATI dan PIKIRAN
Berikut ini kutipan dari ayat-ayat yang lebih menitik beratkan pada perbuatan hati dan pikiran:
18]:103. Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"
Demi mendengar dan mengerti makna maka hati dan pikiran bereaksi membangun pola.terbentuklah honsep-konsep dalam hati dan pikiran, yang sangat mungkin sedera tertuang dalam ucapan lisan ataupun gerak anggota badan untuk melakukan sebuah tindakkan.
18]:104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
pernyataan dan isi ayat itu akan membuat gerakan hayi dan pikiran menyusun analisa untuk menjabarkan bentuk sebab-akibat yang bernada kontradiktif. Yang semestinya perbuatan baik dalam kemakrufan membuahkan hal atau sesuatu yang bermanfaat sebagai hasilnya.
Dua ayat diatas itu; memberi isyaroh bahwa hati dan angan ternyata tak ada persesuaian dalam menentukan hasil dari telah diselesaikan suatu amalan pekerjaan ibadah. Angan dan anggapan memperkirakan membuahkan hasil makruf, tapi dalam kenyataannya adalah sia-sia alias tak membuahkan apa-apa bagi mereka alias hasil yang diharapkan dari usaha makuf tersebut hanya berbuah kosong. Itu artinya ada kerugian dari usaha mereka karena walau telah berusaha dan telah dengan perhitungan masuk kategori perbuatan mulia atau baik, dan tentu akan berbuah baik, ternyata kosong tanpa hasil. Kegiatan itu adalah menjadi pekerjaan yang tak berguna. Meleset, hasil akhir tak sesuai harapan.
Dari perbuatan hati yang berupa: Mengkufuri ayat-ayat Allah; kemudian berlanjut dengan hati mereka tidak menyakini akan adanya Pertemuan dengan Allah kelak di hari akhir;menjadi pangkal tolak dari kekosongan hasil dari semua amalan mereka, meski kiblatnya telah mengarah kepada makruf. Berhubung kosong alias tak ada apa-apanya maka lalu tak ada yang dinilai untuk dipertimbangkan mencapai derajat pada tingkat yang seberapapun bila diperbandingkan dengan semua kealpaan mereka. Mereka akhirnya hanya memiliki kealpaan yang banyak dengan tanpa meiliki sekecil apapun derajat kemuliaan karena semua amalan mereka berbuah kosong. Kekosongan akan hasil tersebut karena yang semestinya ada menjadi terhapus.
Dua kutipan ayat dibawah ini menunjukkan bahwa kufur ayat, kufur perjumpaan dengan Allah, sama halnya dengan pengertian mendustakan ayat-ayat dan mendustakan pertemuan di akhirat. Dua event perbuatan hati ini;baik mengkufuri maupun mendustakan kepada perkara fondametal yang menunjuk kepada ayat Allah dan pertemuan dengan Allah; menjadi terpenuhinya syarat untuk terhapusnya nilai-nilai kemuliaan yang semestinya bisa diperoleh mereka.
18]:105. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
7]:147. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.
Begitu menjadi amat jelas duduk perkaranya mengapa seseorang tak jadi memiliki nilai karena terhapus. andai misal yang terhapus itu seumpama Kupon Konsumsi, maka mendjadi batal tidak menerima ransum. Kini kita perlu tahu mengapa dua event tragis itu mesti bisa terdapat pada hati mereka. Ayat dibawah ini memberikan jawab keterangannya:
18]:106. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok .
Menjadi tidak ada iman dalam hati kiranya dimulai dari perbuatan hati menolak hadirnya sumber yang dapat mendatangkan dan mempertebal iman, kemudian bersambung dengan tindakan yang dilakukan mulut melakukan pengolok-olokan baik terhadap ayat-ayat Allah maupun terhadap pribadi rasul itu sendiri.Tindakan mulut itu tentu kian memuncak hingga merencanakan tipu daya (perbuatan hati) untuk mencelakai memberi madorot terhadap rasul/nabi. Tindakan-tindakan pengusiran dan juga penyiksaan terhadap jasad para rasul/nabi, bahkan pembunuhan terhadap para nabi pada sebelum rasululullah (ini merupakan tindakan pisik) pernah dilakukan oleh masyarakat jahiliyah tempo dulu.
Keterangan-keterangan tersebut hanya untuk merangkai penjelasan pengertian perbuatan dan tindakan yang membalut tiap pekerjaan amalam setiap sosok manusia.
Kemudian berikut ini akan diambung dengan pekerjaan berupa tindakan baik mulut maupun tindakan jasmani, sebagai pelengkapnya.
PERBUATAN MULUT.
Sebagai tindakan lisan. Agar mudah mensarikan dari perbuatan mulut sebagai tindakan lisan maka akan dimbail dan ditunjukkan sebagai contoh saja bahwa tindakan lisan itu menjadikan berbuah sia-sia. yang pertama berhubungan denganketepatan masalah. Menggunakan mulut untuk membatah hal yang benar-benar haq, tentu tak dapat merubah yang haq itu menjadi batil sebagai contohnya bila orang membantah kebenaran Agama Allah; pekerjaan ini bertolak dari kemungkaran; seperti kutipan ayat dibawah ini.
42]:16. Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras.
Kenyataan bukan sia-sia untuk makruf. tetapi sesungguhnya mereka itu berhasil menambah buah kemungkarannya yakni kian menjadi bertambah keras uapah azab yang bakal mereka terima.
Kemudian ditambahkan; orang menggunakan mulutnya dalam tindakan lisan seumpama saja dalam berdoa. Doa itu tentu dimaksudkan berkiblat pada makruf. Berdoapun hasilnya hanya sia-sia manakala: alamat doanya salah; atau juga bertepatan dengan kondisi waktu yang tak sesuai lagi. Untuk contoh yang pertama dan kedua berturut-turut dikutipkan dua ayat seperti dibawah ini.
13]:14. Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.
Berdoa ataupun beribadah dengan alamat kepada berhala, hasilnya tentu salah yakni hanya sia-sia saja.
40]:50. Penjaga Jahannam berkata: "Dan apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?" Mereka menjawab: "Benar, sudah datang". Penjaga-penjaga Jahannam berkata: "Berdoalah kamu". Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.
Orang alim menyebut kondisi saat itu adalah pada keadaan pintu tobat telah ditutup. Mereka tidak lagi berada pada kondisi waktu untuk menjalankan syariat beribadah di dunia. Mereka telah berada di alam baqa. Doa mereka takkan menghasilkan apa-apa alias percuma dan ssia-sia.
PERBUATAN PISIK.
sebagai tindakan badaniyah.
40:25. Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: "Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka". Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka).
Perbuatan pisik sebagai tindakan jasmaniah ini seperti yang pernah dilakukan firaun dengan bala tentaranya di negri Mesir tempo dulu. Jelas berangkat dari kemungkaran. Dengan tujuan memutus generasi pendukung Musa. Mereka melakukan pembunuhan orang-oaarng pngikut agama Musa dan anak-anak yang berjenis kelamin laki-laki.
bila kemungkarang yang telah terencana dan telah diumumkan kemudian gerakan tindakan berhasil dengan lancar tentu tak ada lagi di bumi mesir lelaki pendukung Musa. Jelasnya; semua upaya firaun adalah untuk menolak agama Musa. Disebut sebagai tipu daya karena pekerjaan firaus berangkat dari kemungkaran. Tentu tidak berhasil alias gagal. Kegagalan ini dilihat dari kepentingan firaun maka mereka mendapatkan hasil yang sia-sia. Sedang jika dilihat dari kepentingan Musa dan berkat pertolongan Allah dia berhasil menyelamatkan diri sekaligus menyelamatkan agama Allah.
105]:2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia?
Senada dengan kemungkaran raja Abraha pemimpin pasukan gajah yang berbuat akan menghancurkan ka'bah. Usaha tesebut tak membuahkan hasil, karena kakbah dilindungi allah dengan menggunakan pasukan bala tentara berupa burung ababil yang bersenjatakan batu-batu tanah yang membara penghancur pasukan gajah. Jadi uapaya raja abraha berakhir dengan sia sia aliah tidah berhasil melancarkan tipudaya mereka.
Purna dulu sampai disini. silakan ambil kesimpulan sendiri. Trimakasih atas kesempatan pembaca turut menelusuri artikel ini semga anda menemukan sesuatu yang bermafaat. smoga.
Selasa, 13 November 2012
Mendirikan dan menegakkan Shalat
PENTING MENDENGAR NASEHAT. Kali ini tentang bagaimana agar saat mendirikan shalat bertambah khusyuk; berlanjut dengan tetap tegaknya shalat dalan hati; hingga ketemu waktu shalat berikutnya. Mari kita coba bersama menyiimak.
Dimulai dengan mengangkat ayat 238 surat al Baqoroh
2:238. Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.
Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan shalat wusthaa ialah shalat Ashar. Menurut kebanyakan ahli hadits, ayat ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
Penulis ingin juga menambahkan pendapatnya ssendiri; bahwa istilah shalat wusthaa terkandung isyaroh terdapat didalamnya perihal adanya kesulitan mengambil atau menyisihkan waktu untuk mengerjakan jenis shalat itu, karena kondisi yang seakan terjepit dalam kesempitan peluang. Disana dicontohkan dengan waktu untuk mengerjakan shalat Ashar. Kemudahan yang diberikan untuk tetap khusyuk dalam mendirikannya maka kadang boleh dikerjakan dengan cara dijamak bahkan dengan di kosor lagi. Artinya jenis shalat tersebut tetap ditunaikan walau berada diluar ketentuan waktu yang semestinya bagi jenis shalat tertentu tersebut. Begitu barangkali. Pengertian ini didasarkan atas perintah memelihara shalat dengan tidak ada sebagiannya yang boleh tertinggalkan terkait dengan situasi dan kondisi yang bagaimanapun yang meliputi diri seorang hamba dalam mengelola waktunya untuk berbagai kegiatan dihari-hari menjalani kehidupan mereka.
Ayat tersebut berisi perintah tetap dan selalu tanpa ada libur dalam beribadah shalat maka untuk tetap dan selalu dikerjakan tepat waktu perlu diberikan keringanan-kelonggaran agar gampang mendapatkan kemudahan. Begitu orientasi ini demi menjawab perintah untuk tetap memelihara shalat. Lalu kita wajib memperhatikan tiga ayat terkutip dari surat no 107, surat al Maun sbb:
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. orang-orang yang berbuat riya
Riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
Bagi orang yang telah mendirikan shalat namun tidak lagi mampu memelihara agar tetap tegaknya sholat dalam setiap aspek muamalat mereka, ternyata ada tegoran tersimpan pada tiga ayat terkutip diatas. Dengan tegas menunjukkan bahwa para pendiri shalatpun masih juga menjumpai kecelakaannya. Terlebih shalatnya lalai dari ketepatan waktu shalat karena shalat itu telah tertentu waktunya. Juga lalai dari kekhusyukannya sehingga tak lagi tahu apa yang diucapkan dari bacaan shalatnya; juga tak tergetar dalam hatinya. Kelalaian yang fatal adalah bukan lagi syiar yang didapat dari mendirikan shalat berjamaah melainkan shalatnya justru dipakai untuk me-riya-kan diri dan berbangga-banggaan di mata manusia diluar dirinya. Urusan niat memang hanya diketahui oleh diri sendiri dan juga Allah tentu.
Mari kita sambung-lanjutkan dengan peringatan yang terkandung dalam tiga ayat di awal surat al mukminun surat no 23:
1.Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2.(yaitu) orang-orang yang khusyu ' dalam sembahyangnya,
3.dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
Saat pelanggaran telah terjadi seperti yang diamanatkan pada ayat ke 3; langsung saja dengan contoh nyata misalnya: mulut telah digunakan untuk mencaci dan mengumpat dalam bermuamalat; meski wudlunya tidak jatuh batal misalnya; tapi sesungguhnya telah robohlah tegaknya shalat dalam hati mereka. Padahal bermuamalah harus dengan ketegakkan shalat dalam hati mereka.
Kekhusyukan dalam shalat yang diamanatkan pada ayat 2 dan bahkan benar-benar telah dilandasi dengan keimanan yang teguh sesuai yang diamanatkan pada ayat 1; menjadi pudar kesemuanya saat shalat usai dikerjakan; seakan tak membekas. Tak terjadi ada bekas sujud didahi wajah mereka meski pada kenyataanya si jidat itu terdapat “kapal” menebal pada kulit dahi; bahkan perubahan warnapun kian menggelap di dahi sang ahli shalat ini. Mengapa demikian karena shalat telah segera roboh dalam muamalat sesaat usai sembahyang itu didirikan
Ada tip agar saat mendirikan shalat memperoleh kekhusyukan dan berlanjut dengan tetap tegaknya shalat di dalam hati selama bermuamalah. Hal tersebut dapat dipertahankan untuk tidak dan jamgan segera roboh hingga mencapai waktu sahlat berikutnya dan mendirikan shalatnya, Begitu terus menerus bersambung berkelanjutan. Siklus mendirikan dan menegakkan tak boleh terputus oleh semua perkara yang dapat merobohkan tegaknya shalat dalam hati. . Bila hal tersebut dapat dijalankan dan dipertahankan maka meski jidat tak ada tumbuh kapal bekas benturan dengan sajadah; tentu para malaikat tetap dapat menatap untuk membedakan mana dahi yang tampaknya sama-sama halus mulus itu ada terdapat perbedaan mana yang ada bekas sujud diantara kedua penampilan wajah tersebut. Yakinlah hal-hal demikian itu benar adanya. InsyaAllah.
Tip-tip yang ditawarkan hanyalah berkisar pada lingkungan pendukung saja. Kesucian dan kebersihan badan, pakaian beserta perlengkapannya,dari khadas dan najis dan juga tentang tempat serta lingkungannya, aman dan nyaman Dan juga syarat rukun syah yang diarahkan kepada diterima tidaknya ibadah itu menurut anggapan manusia. Hal yang lebih sentral seperti bekerjanya hati serta ucapan-ucapan yang dilafadzkan dalam shalat termasuk harapan dan sikap yang benar sopan juga santun dalam menghadap sesuatu yang tak tampak mata dihadapannya yakni Allah. Dan Allah disaat apa dan kapanpun bisa berbuat terhadap apa saja yang menjadi kehendaknya. Wajib ditakuti juga akan pemberian setiap putusan terhadap setiap sisi perbuatan hambanya.
Tip yang paling sesuai adalah mengupayakan pesan yang terkandung pada ayat 45 dari surat al ankabut sebagai berikut:
29:45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Perbuatan keji dan mungkar hanya bisa dilakukan diluar shalat. Artinya pada sebelum atau pada sesudah mendirikan shalat. Maka tidak disebut sebagai mendirikan shalat manakala perbuatan yang mirip gerakan orang mengerjakan shalat itu justru sedang melakukan tindak keji dan mungkar.
Bila demikian yang menjadi dampak dari setiap hamba Allah yang telah mendirikan shalat, dalam mencegah keji dan mungkar, pastilah hanya pada mereka yang tetap memelihara tegaknya shalat dalam hati di semua perilakunya. Tentu mereka menjadi mampu dengan kontrol berupa tetap tegaknya shalat dalam hati disepanjang melakukan semua aktifitas hidupnya. Baik dalam aspek ibadah selain shalat maupun bermuamalah. Semoga postingan ini mampu menebar manfaat bagi para pendiri shalat!!
Kemudian sebagai penutup postingan ini: mari kita baca ayat surat jumuah surat no.62, yang dengan mengamalkannya selalu maka akan menjadikan diri kita tetap menegakkan shalat dalam hati sepanjang masa.
62:10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Kunci agar tetap shalat itu tetap tegak didalam hati dimanapun kita berada dimuka bumi ini, maka dzikir dengan mengingat Allah banyak-banyak. Yang demikian itu membuat kita selalu beroleh keuntungan banyak. Diantaranya selain shalat kita tidak segera roboh selama bermuamalat, juga bagi diri kita masing-masing akan terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar.
Begitu???!! Amiin!!!.
Minggu, 11 November 2012
ISTANA dan SINGGASANA
Antara ISTANA dan SINGGASANA.
Demi ketauhidan yang mapan dan kokoh dalam hati tiap muslim. Jangan mudah men generalisasi peruntukan penggunaan beberapa kata menjadi bermakna sama, sebobot dan setara. Ingat di dalam bahasa Indonesia ada kaidah DIKSI yang mengarahkan kepada pemakaian pilih kata sesuai terapan dalam kalimat dengan lebih tepat
Kenalkah anda terhadap makhluk yang disebut Jin?; sesungguhnya Iblis juga berasal dari jenis Jin. Lalu karena dari semua ulah mereka maka makhluk ini menjadi dilaknat Allah.. Ada hal-hal yang tak patut diambil juga diiberikan untuk mereka, mari kita lihat nash-nash ini:
1 18:50. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang lalim.
Dari surat al-Kahfi ayat 50 diatas, amat jelas hal-hal yang tak boleh diambil dari mereka lebih-lebih dijadikan sebagai premimpin bahkan pengganti Allah.
2 Musnad Ahmad 14027: Telah bercerita kepada kami Abu Ahmad telah bercerita kepada kami Sufyan dari Abu Az Zubair dari Jabir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Singgasana Iblis adalah di tengah laut, disanalah ia mengirimkan para tentaranya. Yang paling tinggi kedudukannya adalah yang paling besar kejahatannya “.
3 Shahih Muslim 5031: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim, berkata Ishaq: Telah mengkhabarkan kepada kami, sedangkan Utsman berkata: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir berkata: Aku mendengar nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: Sesungguhnya singgasana Iblis berada di atas laut, ia mengirim bala tentaranya kemudian mereka menggoda manusia. Yang paling agung bagi iblis adalah (setan) yang paling besar godaannya.”
Dari musnad Ahmad dan Shahih Muslim terkutib diatas; ada persesuaian yang dilakukan oleh penterjemahnya pada lafadz yang kemudian di translate kedalam bahasa Indonesia menjadi: “Singgasana”. Ungkapkan untuk menunjukkan kehebatan dalam keburukan terkait dengan tempat pusat kediaman mereka para jin dan iblis, dengan sebutan seperti itu adalah ada ketidak patutan terkandung didalamnya. Yang pantas bagi jin dan iblis cukup dengan menyebut untuk mereka dengan nama:” istana” saja karena dengan begitu bisa dibedakan antara makna yang terkandung pada kata SINGGANA dengan kata ISTANA dalam bahasa Indonesia. Singgasana hanya diperuntukan bagi pengganti sebutan ARASY milik Allah saja. Translate yang penulis setuju dan cocok adalah seperti dibawah ini:
4 Musnad Ahmad 13858: Telah bercerita kepada kami Abu Mu’awiyah telah bercerita kepada kami Al ‘A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iblis meletakkan istananya di atas air kemudian mengutus pasukannya. Singgasana paling rendah di air dihuni oleh yang paling besar kejahatannya, Iblis mendatangi satu persatu anggotanya, ada yang menjawab ‘Saya telah melakukan ini dan itu’, maka (Iblis) berkata; ‘Kamu belum berbuat apa-apa”. (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Kemudian ia mendatangi yang lain dan berkata; ‘Saya tidak meninggalkan dia, sampai saya bisa memisahkan dia dengan isterinya’”. (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Maka ia (iblis) tersebut menjadikan anggotanya yang telah berhasil memisahkan suami-isteri itu dekat dengannya”, atau beliau bersabda: “Maka ia selalui menyertainya, hingga raja iblis itu berkata; ‘Anak buah terbaik adalah kamu”. Abu Mu’awiyah pernah berkata; “Maka Iblis menjadikan anggotanya itu sangat dekat” dengannya.
Tegasnya: Singgasana sebaiknya hanya untuk Allah dan istana boleh diperuntukkan bagi selain NYA. Pemakaian kata ataupun istilah yang rancu tak akan dapat membuat perbedaan derajat mana yang lpaling tinggi kemualiaannya dan mana yang sebenaarnya amat rendah kehinaannya. Membiasakan hal tersebut dalam keseharian tentu terkait dengan kokonya ketauhidan dan bermuara kepada tetap tegaknya syariat pada diri seseorang muslim.Smoga!
Begitu pula
Antara posisi dan kedudukan terkait LETAK suatu bangunan
Masih dengan dalih: “demi keteguhan ketauhidan di hati muslim”. Jangan mudah memberi makna sama bagi sesuatu yang kebetulan masing-masing diberi keterangan letak dengan kata yang persis sama pada Posisi dan kedudukan yang berbeda. Apa itu ? “TERHADAP AIR.!!”.Menyebut nama bangunan tak boleh rancu antara istana dan singgasana sebagaimana telah dibahas pada sebelum ini;dan kerancuan kian membutakan faham dan pengertian tatkala ditambah dengan menyebut identitas keterangannya yang dianggap sama namun berbeda dari baik POSISI maupun KEDUDUKAN dari identitas penjelas yang justru membuahkan kerancuan bagi pemahaman antar keduanya. Terhadap Air untuk dikaitkan dengan posisi suatu bangunan; berbeda dengan pengertian terhadap air untuk dikaitkan dengan kedudukan suatu bangunan tertentu.Mari kita lihat dan perhatikan keterangan penjelasnya sebagai berikut.
Kata posisi sebenarnya juga mengandung pengertian letak yang menjukkan koordinat diantara benda-benda lain disekelilingnya. Sedang kedudukan juga mengandung pengertian letak yang menunjukkan hubungan suatu benda terhadap benda lain disekelilingnya.
1. Untuk posisi suatu bangunan dengan keterangan “diatas air”.
2. Untuk kedudukan suatu bangunan dengan keterangan “diatas air”.
Untuk yang pertama: Bangunan tersebut adalah SINGGASANA milik Allah dalam bahasa al quran disebut ARASY dengan ciri khas bangunan tersebut hasil ciptaan Allah sendiri. Letaknya diatas air. Diatas air adalah posisi yang koordinatnya berada diatas segala dan semua ciptaannya, termasuk air yang diletakkannya dibawah arasy. Air ini adalah air kehidupan diperuntukkan bagi makhluknya. Makhluk yang diberi kehidupan harus memposisikan dri mereka sebagai makhluk dan juga hamba Allah.
Arasy tempat dan pusat mnegendalikan semua urusan bagi Allah. Arasy itu tidak bertumpu pada air yang berada di bawahnya. Begitu pula air yang berada di bawahnya yang tak terukur besar jumlahnya dan tak diberikan tahu apa pula wadah air ini. Air ini tidak menggantung dengan berbagai tali pengikatnya dibawah arasy melainkan terkendali dari arasy. Tidak liar karena diatur Allah dalam berbagai ketentuan yang mesti ditaati si AIR ini. Itu adalah air sebagai awal-mula dari semua air yang berada di seluruh alam semesta.Begitulah posisi antara Singgasana Allah dan air kehidupan dibawahnya.
Untuk yang kedua; bangunan ini yang pada beberapa ayat disebut dengan arasy juga adalah milik makhluk hendaklah diterjemah sebagai Istana. Merupakan bangunan buatan makhluk. Dari memberi sebutan yang berbeda akan memberi banyak menumbuhkan sisi kelengkapan pemahamannya hingga menjadi terang dan jelas.Dengan begitu tak akan terjadi seakan menyetarakan menyamakan dalam derajat kemuliaan. Disitu menjadi tegas perbedaan dalam perbandingan kesuciannya.
Istana Jin juga diletakkan diatas air. Kini mari kita bahas materi air itu disini. Air dibawah Arasy Allah tidak sama dengan air dimana istana Iblis diletakkan, meski sebutan sama namun letak berbeda. Menunjukkan airnyapun tentu berbeda pula.
Air tersebut berupa lautan ataupun samudra yang letaknya benar-benar mengambil sebagian permukaan bumi dijadikan sebagai wadahnya. Air danau air lautan maupun samodera asalnya adalah air yang diturunkan Allah ke bumi yang kemudian tinggal di bumi ataupun dipermukaan bumi. Karena air ini meski asalnya dari air dibawah arasy Allah, maka segala kondisinya tak akan menjadi sebanding lagi dengan yang masih tetap berada di bawah arasy Allah dan belum atau memang tidak untuk diturunkan ke bumi. Air yang telah tinggal di bumi yang berupa lautan ataupun samudera pada bagian atasnya akan terbuka luas. Pada bagian terbuka luas inilah iblis meletakkan istananya. Alam jin atau iblis itu berhimpit tanpa bersinggung dengan alam manusia. Melalui bagian yang berhimpit ini memberi celah untuk berkomunikasi dan berinteraksi antara alam manusia dan alam jin. Contoh untuk itu adalah Nabi Solaiman dengan ratu bilqis. Kembali kepada membahas masalah air yang telah jelas perbedaan antar keduanya. Kini tentang KEDUDUKAN istana iblis yang terbaca diatas air lautan, maka air tersebut berada di alam manusia sedang istana iblis berada di alam Jin. Hubungan antara air dan istana iblis berhimpit tanpa bersinggungan karena masing-masing berada pada letak alam yang brbeda. Membahas pengertian dua alam yang berhimpit tanpa bersinggungan ada ilmunya tersendiri untuk lebih mendalami pemahamannya. Sampai disini hanya dimaksudkan untuk menjelaskan pemahaman perbedaan air lautan dengan air dibawaArasy Allah; juga untuk menunjukkan pengertian posisi terkait tata letak beberapa benda didalam satu alam, sedang kedudukan dimaksudkan untuk menjelaskan tata letak antar makhluk ciptaan Allah yang berada pada alamnya masing-masing dan hubungan interaksinya.
Sebelum postingan diakhiri, kiranya perlu ditambahkan hal yang menginginkan kemegahan bagi suatu banguan yang dianggap berada diatas air. Tersebutlah kisah Penguasa Maroko Raja Hasan III membuat bangunan mesjid diatas permukaan air lautan pasifik. Masjid yang amat tersohor kemegahannya. Tetapi bila kita sorot dengan pengertian Posisi dan Kedudukan maka bukanlah menjadi benar-benar diatas air meski kenyataan pandangan mata bagi siapapun yang melihat akan mengatakan demikian.
Masjid ini ditumpu dengan tiang-tiang peyangga yang mencuat dari dasar laut menembus lapisan air diatasnya kemudian mencuat keatas permukaan air samodra pasifik .Pada ujung-ujung dari semua tiang penyangga ini digunakan untuk menopang pondasi masjid yang kemudian didirikan bangunan masjid seutuhnya berada diatas pondasi ini.
Seandainya air laut mau surut serenrendah panjangnya ting pancang untuk mesjid ini maka aakan menjadi nyata bahwa posisi mesjid tak lagi berada diatas air, dalam kondisi mesjid tak bergerak pergi meninggalkan tempatnya semula. Mesjid ini akan menunjukkan posisi aslinya yakni tanah didasar laut kala saat laut mengering. Hal semacam ini bisa saja terjadi karena air laut pasifik dibawah masjid ini tak punya sifat kekal. Bila kemungkinan seperti tersebut menjadi kenyataan maka kedudukan masjid sebagai bangunan diatas air menjadi batal atau gugur. Dengan kata lain menjadi tak terbukti diatas air lagi. Mengapa begitu? Air yang tinggal di bumi konsentrasinya amat labil. Ingat peristiwa yang dialami oleh masyarakatnya nabi Nuh. Air yang keberadaannya amat temporer itu telah mengubah daratan menjadi tertutup air dengan kedalamannya serta lama waktu yang cukup untuk membinasakan umat yang sebelumnya telah menghuni dan tinggal di permukaan daratan ini.
Harapan dari pemosting artikel ini agar pembacanya menjadi lebih bingung kemudian mau mencari tahu pengertian antara posisi dn kedudukan dengan semakin penasaran kemudian memperoleh pemahaman dari yang digali itu dengan lebih mendalam. Klu kunci cari makrifatullah, yang sebagiannya insyaAllah sedikit akan pemosting terbitkan artikel demi artikel bagiannya mengarah kepada makrifatullah. Sebagai percobaannya; mulailah menkaji ayat22 dari surat Qof surat no 50.perhatikan apa makna yang terkandung pada penjelasan: bahwa pada hari itu penglihatanmu menjadi TAJAM setelah tutup mata dibuka untuk melihat keadaan alam lain disekitar kita manusia yang saat itu sedang mengalami sakaratul maut. Silahkan ihwanku!!.Perkuat ketauhidan serta aqidahmu agar kian meningkat kualitas penghambaan kepada Allah. Wasalam.
Senin, 05 November 2012
Kontek Memelihara Milik
Masih dalam diskusi HAFIDZ AL QURAN.
Rumusan methoda Dengan Jalan Judjur telah diposting mendahului ini.Terkait dengan pokok bahasan sebagaimana tersebut diatas maka kali ini akan disambung rapatkan dengan postingan terkait kontek memelihara milik. sebuah hafalan yang telah menjadi milik berarti bagian surat ataupu satu surat yang benar telah dihafal perlu dilakukan pembacaan ulang pada teks aslinya didalam al quran. pada postingan Dengan Jalan Judjur telah memberi trik agar sebagian dari surat yang telah ditentukan penggalannya telah menjadi hafalan yang mantap, meski penggalan tersebut hanya terdiri dari sekitar 10 atau 20 ayat. Kali ini akan lebih dipatri dengan tambahan action agar kian meluas cakupannya dan juga agar bisa kian maju bertambah jumlah suratan yang dihafal dan juga agar hafalan tersebut tetap menjadi milik tanpa kuwatir kehilangan sebaggiannya atau bahkan rangkaian sejumlah ayat yang dulunya telah menjadi hafalan milik yang benar-benar telah lekat. Maka dari itu maka Kontek Memelihara-Milik wajib kiranya untuk difahami.
Kontek Memelihara Milik sesungguhnya adalah upaya sistimatis. Dengan upaya yang modelnya telah terpolakan dalam kontek memelihara milik, maka bila nanti ada penambahan dengan satu atau beberapa penggalan surat lainnya, yang didalamnya ada terkandung kemiripan dalam beberapa lafadznya maka tidak menimbulkan kerancuan yang berdampak rusaknya ingatan urutan haafalan dalam tiap penggalnya. Melihat bagian-bagian antara dua atau tiga jenis penggalan lain yang disitu tentu terkandung sisi persamaan dan juga terkandung sisi perbedaan maka disanalah akan didapat dan bisa dirumuskan perbedaan-persamaan antar para penggalan yang terbandingkan itu.
Dalam melakukan kegiatan banding antar penggalan tentu harus mengikuti kaidah umum dari konstruksi pembentukannya. Konstruksi yang dimaksud disini ialah mana ayat-ayat atau berapa ayat yang dikelompokkan sebagai pembuka, kemudian berapa ayat yang terangkai dan mengurai kandungan isi; dan juga ayat-ayat yang mana lagi yang dapat dikelompokkan kedalam ayat-ayat penutup pada penggalan surat yang kita pilih.Latihan melakukan pengelompokan beberapa ayat yang bagaimana yang harus terkumpul sebagai pembuka, dan mana yang terkumpul sebagai isi, dan yang mana lagi terkumpul sebagai penutup yang diberlakukan pada suatu penggalan surat. Memang membutuhkan ketelitian dan kecermatan. kepiawaian dalam hal seperti itu sungguh membutuhkan banyak waktu untuk berlatih.Namun contoh berikut ini akan bisa memberikan tuntunan dan bisa diduplikasikan kepada penggalan-penggalan surat terpilih lainnya.
Kini dicoba untuk menunjukkan cara memperbandingkan antara penggalan surat taghobun qs.no 64 dari ayat 1 s/d 10 sebagai A; dengan surat al hadid qs no.57 mulai ayat 1s/d 15 sebagai B. Mari kita perbandingkan antara A dan B dalam penggolongan: pembukaan, isi ataupun penutupnya. Demikian:
1.pembukaan: A: 1 s/d 4 B: 1 s/d 6.
2.isi : A: 5 s/d 10 B: 7 s/d 10.
3.penutup : A: tanpa B: 11
Pada tiap pengelompokan baik sebagai pembuka,isi, maupun penutup adalah sangat erat kaitannya dengan muatan petunjuk Allah didalam penggalan surat yang bersangkutan. Bagi setiap kelompok ayat kategori pembuka, bila penggalan surat itu adalah bagian awal surat maka tentu amat mudah menetapkannya karena biasanya bermuatan hal Allah memperkenalkan jatidiri dzatnya agar manusia menjadi lebih mengenalnya. Apabila manusia mengenal Allah tuhannya maka berkesempatan memperoleh jalan untuk kian mendekat kepadanya dengan sedekat-dekatnya guna mencari rahmat dan ridhonya.
Ciri ayat yang dapat dikelompokkan pada isi biasanya berhubungan dengan permasaalahan yang diangkat dan diberikan jawab bertautan dengan jalan keluar ataupun kesimpulan ataupun juga akibat-akibat dari permasalahan yang diangkat tadi. Adapun penutup adalah bisa berisi kesimpulan permasalahan atau juga hal baru namun masih terkait.
Uraian diatas hanyalah alat bantu agar tak terjadi kerancuan antar beberapa penggalan yang ternyata didalamnya terkandung kemiripan bahkan kesamaan dalam beberapa ayatnya, disamping kejelasan perbedaannya.Sesungguhnya yang teramat penting dalam kontek memelihara penggalan-penggalan surat itu masing-masingnya benar-benar telah jadi hafalan milik ingatan kita. Trik yang amat mendasar ialah penggalan yang telah jadi hafalan kita itu terus terpelihara dan terkontrol dengan jalan banyak-banyak mengulang dan mengulang. caranya harus dilakukan secara sistimatis sebagai berikut:
1.siapkan dua penggalan surat yang akan dipakai sebagai bacaan surat di rakaat pertama dan rakaat kedua. Dalam mempersiapkan ini setidaknya pada sebelum menegakkan solat telah terlebih dulu dua bagian suratan harus dilafadzkan sebagai penggugah daya ingat sehingga tak terjadi kesalahan dalam bacaan surat pada shalat yang sedang ditegakkan.
2.saat menegakkan solat yang didukung oleh dua penggal surat tadi menjadi lancar, dengan harapan tentu tak terjadi kerancuan.
3.saat selesai menunaikan solat, perlu dua penggalan yang teraplikasikan dalam solat tadi dilihat kembali dalam al quran.
Resep ini nampaknya ringan saja namun berat mengamalkannya. Padahal apabila dilakukan seperti anjuran resep diatas dan dilakukan satu-duakali dalam satu-dua jenis solat saja dalam seminggu insyaallah dua penggalan surat terpilih tersebut benar-benar telah menjadi milik dan selalu tertanam dalam ingatan tanpa kedatangan sisi lupa sedikitpun. Begitu resep dalam kontek memelihara milik yang harus dengan disiplin dan sistimatis perlu dilakukan.
Setelah itu tentu tambah pemilikanpun harus dilakukan upayanya dengan memilih dua penggalan dalam suratan selain yang telah jadi milik tadi. Cara dan langkahnyapun sama sebagaimana kita membuat dan menjadikan dua penggalan surat terpilih seperti yang telah diterangkan diatas.
Mengapa dua penggalan suratan bisa lekat jadi milik, karena ternyata kita telah melakukannya berulangkali dalam menghafalkannya. Coba kita tengok: saat memilih dua penggalan tersebut tentu telah dikaji dan dirumus kedalam penggolongan pembuka,iisi dan penutup. Pada kegiatan itu tentu telah beberapa kali dua-penggalan ini telah dibaca dengan lebih dari dua-tiga kali masingg-masingnya. Kemudian saat hendak menerapkannya sebagai bacaan solat; dua penggal terpilih tadi dibaca dalam saat sebelum solat, kemudian dalam solat, kemudian diteliti kembali dari alquran untuk mencocokan hafalan dengan teks rujukan didalamnya. Begitulah karena setidaknya untuk menegakkan solat telah dibaca ulang sekurangnya tiga kali.
Demikian mudah-mudahan posting Kontek Memelihara Milik dapat menggugah semangat untuk usaha menambah dan menambah bacaan hafalan dan membuat kita jadi kaya hafalan bacaan alquran. Bacaan itupun telah menjadi bagian ibadah dan terntu akan meningkatkan kualitas ibadah itu sendiri. Amiin ya robbal alamin.!!
Dengan Jalan Judjur
Menaikkan tingkat kualitas HAFIDZ ALQURAN.
Banyak metode yang bisa dipilih. Kesemuanya berupaya memberikan cara dan jalan agar memperoleh kemudahan dalam menghafal dan mudah memperoleh ingatan kembali keruntutnya urut hafalan.Dengan demikian maka jumlah hafalan kian meningkat dan hingga seterusnya dicapai hafalan dalam jumlah keseluruhan surat dalam alquran. Menjadi kian mampu menentukan kapan bagian alquran hafalan ini dimulai dan kapan pula penggalan atau bagian surat terpilih harus diakhiri. Dengan bagitu keahlian ini dapat dimiliki melalui methoda dengan jalan jujur. InsyaAllah.
Sebagian torikot ini menggariskan upaya berulang tanpa bosan dan justru meningkatkan kecintaan pada bagian alquran, suraat atau boleh juga bagian surat yang sedang diupayakan penghafalannya.Torikot untk menggapai meningkatnya jumlah fafalan mencakup surat-surat dalam al quran; tak lebih bagai tip sharing bagi pembaca postingan ini agar terpacu tekad dan niatnya untuk selalu menambah dan menambah hafalan surat mereka hingga kian hari kian bertambah kemajuannya dan akhirnya dalam kurun waktu tertentu Allah mengijinkan seseorang memiliki hafalan semua suratan dalam alquran. Sesuatu yang bukan tidak mungkin bila Allah telah menghendaki dan mengijinkan melalui telah diupayakannya oleh seseorang untuk mendapatkan diri mereka masing-masing sebagai penghafal sekaligus pemelihara keutuhan dan kemurnian alquran sebagai seorang yang hafidz.
Sebagai layaknya cara menunjukan arah untuk mencapai tujuan, maka metoda DENGAN JALAN JUDJUR memetakan kegiatan langkah yang mesti ditempuh dengan teliti cermat tlaten penuh kesungguhan dan diniatkan sebagai peningkatan ibadah menghamba kepada Allah maka tak boleh pesimis terhadap rahmatNya.
Rumusan cara Dengan Jalan Judjur sebagai metoda adalah sebagai penunjukkan kata-kata kunci mengarah pada penekanan makna agar mendapat peningkatkan intensitas perhatian kepada kata tunjuk yang tersebutkan. Sebagai wujud torik ini terjabarkan dalam rangkaian tahapan yang mesti difahami terlebih dulu; yakni:
1.Jalan; dimaksudkan sebagai pengarah dan harus ditempuh agar sampai tingkat ujungnya akan boleh memperoleh tingkat kemampuan tertentu. Ujung jalan yang terus disambungkan menuju ujung jalan seterusnya untuk mendapatkan kopetensi kemampuan yang lebih dan menjadi kian mapan.
2.Judjur; terurai kedalan dua bagian yaitu Jud dan Jur. Dua penggalan sebagai suku kata ini kemudian kita rumuskan sebagai kata sandi.JUD; adalah penggalan dari kepanjangan Sujud yang berarti bersujud berkonotasi melakukan shalat. JUR; penggalan yang ini diafiliasikan kepada perbuatan jurnalisme; dengan tujuan memperoleh ulangan kegiatan penghafalan dalam prosedur jurnalistik. Mari kita bahas sedikit secara simultan rumusan JUD-JUR;sebagai berikut:
2a.Kita bahas lebih dulu Jur-nya demi lebih hikmatnya Jud, hingga memperoleh nilai khusuk dalam ibadah shalat yang kian sempurna.Jurnalistik disini hanya diambil pokok-pokok actionnya yang meliputi utamanya: 1). menuliskan sesuatu sebagai tanda pengingat untuk bagiam mana ayat permulaan dari surat untuk permulaan awal dan sampai dengan ayat mana sebagai tanda bacaan sementara untuk diakhiri. Begitu akan menunjukkan berapa banyaknya ayat-ayat yang perlu dibaca ulang guna memperoleh kelancaran ucapan dalam bacaan. Hal seperti itu dimaksudkan pencari hafalan ini dapat menempatkan isyarat dibeberapa titik awal ayat sebagai pijakan pertama, kemudian menempatkan isyarat sebagi urutan pijakan pengingat berikutnya dalam urut jumlah ayat yang telah diprogram untuk dihafal. Sebagai contoh penjelasnya dapat diutarakan disini semisal ada keinginan memiliki hafalan surat taghobun qs no.:64 ayat1 s/d ayat 10. Kemudian setelah hafal benar barulah disambung lagi mulai dari ayat 11 s/d ayat terakhir surat ini yakni ayat yang ke 18. Jadi untuk mengambil hafalan surat ini perlu dipenggal jadi dua bagian yang cara memenggalnya seperti telah disebutkan. Untuk memperoleh hafalan baik pada penggalan pertama maupun sambungannya pada penggalan kedua dalam masing-masingnya perlu membuat:alat-alat bantu pengingat dan penajam ingatan;
_________A__catatan titik pengingat;
_______;_B__mengendali dan mengelola catatan
_______:_C__mengekspos dan mengupdate dengan edit lebih dulu.
A; adalah tanda dengan tulisan sendiri pada titik pengingatnya. Ada syarat yang perlu diperhatikan dalam membuat tulisan catatan ini adalah sebagai berikut:
:*jelas dalam menandai awal pembuka surat,pokok-pokok pikiran yang disitu tentu berlanjut dengan ayat berikutnya sebagai uraian penjelas tiap pokok pikiran yang sedang diangkat. Misal kita tulis: Yusabikhu lillah (ayat 1) sebagai pembuka. Pokok pikiran yang pertama adalah Allah pencaipta manausia juga pencipta langit dan bumi dengan sifatnya yang maha mengetahui (ayat 2 s/d 3). Pokok pikiran yang kedua ialah tabiat dan akibat yang dialami orang kafir ( ayat 4 s/d 7).Penutup dari penggalan pertama itu berupa perintah beriman beserta akibat yang kelah diterima oleh masing-masing antara yang beriman dan yang tidak (ayat 8 s/d 10)
Begitulah cara antara lain dalam memulis memberikan tanda untuk mudah diingat. Menentukan mana pembukaan; dan mana isi yang bermuatan beberapa pokok pikiran harus dilakukan terlebih dulu dengan jelas dan tegas batas-batas ayatnya.
:*Membuat catatan harus urut dan kronologis memberikan gambaran rangkaian pokok pikiran yang tak akan terputus yang diatas telah digambarkan perihal mengelompokkan beberapa ayat baik sebagai pembukaan, pokok pikiran pertama kedua dan seterusnya. Pengelompokan itupun sekaligus dapat digunakan sebagai tahapan penghafalannya. Cara separti itu benar-benar menuntun dan membimbing daya ingat untuk terus bersambung dalam ingatan. Jadi urusan keurutan dalam kronologis membanntu menunjukkan langkah maju dari tahap yang satu kepada tahap berikutnya, dan yang pasti cara ini akan membuahkan ketajaman rangkaian hafalan dalam ingatan.
:^Butuh perlakuan rapi dan rajin secara berkala dan berulang-ulang; akan memberikan jaminan terhadap upaya tulis menulis membuat catatan dengan jelas lagi tegas batas-batas nya dan secara kraonologis dalam setiap aspek pokok pikiran itulah sesungguhnya jalur pacu menuju tercapainya mempunyai hafalan yang susah untuk lepas dan terlupakan akan kececeran sebagian kecilpun dari untaiannya.
Begitupun bila kita melakukan pencataan untuk pengelolaan juga update nya untuk penggalan yang ke dua yang dimulai dari ayat 11 s/d 18)
Pembukaan pada penggalan ini terletak pada ayat 11 s/d 13. Isi berupa seruan kepaada orang beriman ayat 14 s/d 16. dengan penutup ayat 17 dan 18.
B; adalah fungsi pengelolaan pengendalian. Melalui sering melihat catatan pengendali ini secara tidak langsung terjadi penelian ulang dan sekaligus terjadi pembacaan ulang ayat yang ingin disimpan dalam ingatan. Update disini pasti berlangsung berbuah pembaharuan ingatan sekaligus mempertajam.
C; adalah pendalaman akan makna ayat yang berlanjut dengan penambahan ulasan makna tidak hanya yang tersurat melainkan juga makna-makna yang tersirat yang terkait disekelingnya dari zikron katsiron dari ayat yang sedang terulas kian mendalam.
2b.Kini kita memasuki ulangan pada aspek JUD dari JUDJUR. Sengaja penulisan kata jujur dituliskan dengan JUDJUR, hanya dengan maksud memudahkan membangun image dalam pikiran kata ini mudah dipenggal menjadi jud dan jur. Aspek jur nya telah terbahas diatas meski sepintas, kini tinggal melanjutkan aspek jud nya. Aspek inipun sesungguhnya telah bisa ditangkap dengan terang karena telah disinggung diatas. Walau begitu kiranya perlu ditambahkan pula disini bahwa kekhusyukan shalat tentu terdorong juga oleh pemahaman makna lafads ayat yang diucapkan dalam bacaan alquran dalam menegakkan shalat,
Penutup postingan ini; penggalan tadi mengikuti tanda rukuk yang berada pada surat Taghobun tersebut. Demikian teriring doa semoga yang mempraktekkan teori ini akan memperoleh metoda hafidz alquran yang paling afdol dan mempermudah bagi para peminatnya. Sekian semoga bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)